PENELITIAN ILMU RIJALIL HADIS
PENELITIAN
ILMU RIJALIL HADIS
Dosen Pengampu
: Ali Imron, S. Th.I., M.S.I

Oleh :
Ismi
Wakhidatul Hikmah (15530061)
PRODI ILMU
AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
Nama : Ismi Wakhidatul Hikmah
NIM
: 15530061
Jurusan : Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Kelas : C ( Kamis – jum’at )
PENELITIAN
RIJALIL HADIS
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ،
قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ،
عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: " إِنَّ
الَّذِي تَفُوتُهُ صَلاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ "( رواه النسائي)
Artinya : Qutaibah
bin Said telah mengabarkan kepada kami bahwa Al Laits menceritakan kepada kami
dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda: sesungguhnya orang yang
kehilangan (ketinggalan) sholat Ashar seakan ia kehilangan keluarga dan
hartanya.
Untuk melihat keshahihan
sebuah hadits, kaidah ilmu hadits
menyatakan bahwa yang pertama kali perlu diteliti adalah sanadnya. Bila
sanadnya dinyatakan shahih, barulah matan-nya bisa diperhatikan. Bila
tidak, maka matannya dipandang tidak shahih lagi. Untuk menguji keshahihan
sanad hadis di atas, berikut ini akan ditelusuri identitas para perawinya.
Jalur periwayatnnya adalah: Rasulullah→ Ibnu Umar→ Nafi’→ Al-Laits→ Qutaibah bin Said→ An-Nasai.
1.
Ibnu Umar (w. 73 H/692 M)
Nama
lengkapnya Abdullah bin Umar bin Khathab bin Nufail, julukannya Ibnu Umar atau
Abu Abdurrahman, tinggal di Madinah, termasuk shahabat terpandang, wafat tahun
w. 73 H/692 M. Menurut Ibnu Abdil Bar (1412 H: 951),[1] ia wafat dalam usia 86 tahun. Jadi, diperkirakan Ibnu Umar lahir tahun 13
tahun sebelum perisiwa Hijrah. Mengenai kepribadiannya, Sulaiman bin Mahran
berkata, "Aku tidak melihat orang yang lebih wira'i dari Ibnu Umar"
(Bar, 1412 H: 951).[2]
Selain berguru kepada Nabi, ia juga berguru kepada shahabat-shahabat lain
yang lebih senior, antara lain Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khathab, Bilal
bin Rabah, dan lain sebagainya. Sejak kecil memiliki semangat yang tinggi dalam
mempelajari dan meneladani sunnah Nabi saw.[3]
Beberapa orang
yang berguru kepadanya antara lain Abu Alqamah, Jabir bin Abdullah bin Amr,
Harmalah Maula Usamah, al-Hasan bin Abi Hasan, Salim bin Abudllah, Nafi',
dan lain-lain. Abu Umar berkata, "Abdullah bin Umar meninggal di Makkah
tahun 73 H.[4]
2.
Nafi' (117 H/735
M)
Nama lengkapnya Nafi' Maula Ibnu Umar
(al-Daruquthni, 1985: 259)[5] dengan julukan Abu Abdullah, tinggal di Madinah hingga meninggal di sana
tahun 117 H/735 M. (al-Rib'i, 1310 H: 273).[6] Ia banyak belajar dari Abdullah
bin Umar. Selain ia juga belajar kepada Aslam Maula Umar, al-Harits bib
Rib'I, Zaid bin Tsabit bin al-Dhahhak, dan lain sebagainya. Adapun
murid-muridnya antara lain Aban bin Thariq, malik bin Anas, Ishaq bin Abdullah,
Isma'il bin Umayyah, Isma'il bin Muhammad,[7] Al- laits, dan lain
sebagainya.[8]
Ia memiliki reputasi besar pada masanya (Ya'la, 1409 H: 205).[9] Al-Bukhari berkata, "Sanad-sanad Imam Malik yang paling shahih
berasal dari Nafi' dari Abdullah bin Umar. Ia pernah diutus Umar bin Abdul Aziz
ke Mesir untuk mengajarkan sunnah Nabi di sana." (al-Suyuthi, 1403 H: 47).[10]
3.
al-Laits (w. 175 H/ 791 M)
Nama lengkapnya adalah al-Laits bin Sa’ad bin Abdul
Rahman dengan julukan Abu Harits, menetap di mesir. Ia lahir pada tahun 94 H
dan meninggal ketika usia 81 tahun yaitu pada bulan sya’ban tahun 175 H.
Ia banyak belajar dari Az-zuhri, Nafi’,
Yahya bin Said Al-Anshari, Yazid ibn Abi Habib, Akil ibn khalid, Musa, dan
lain-lain. Adapun muridnya antara lain Qutaibah ibn said, Abdullah
ibn Mubarak, Abdullah ibn yusuf, Yahya ibn Bakir, dan lain sebagainya[11]
Yahya
bin Bakiir berkata: ” Aku belom pernah melihat seseorang yang lebih baik dari
Al-Laits bin Sa’ad. Dia orang yang alim (mengetahui hukum syari’at), mampu
berbicara dengan bahasa Arab, mampu membaca al-Qur’an dengan baik, hafal hadits
dan syair, serta mempunyai ingatan yang kuat, Aku belom pernah melihat ada
orang yang sama seperti dia.” Ya’kub bin Syaibah juga berkata: ” Dia (al-Laits)
adalah orang yang tsiqoh (terpercaya), walaupu hadits yang diriwayatkan dari
Az-Zuhri terdapat beberapa keraguan ( kesalahan ).[12]
4.
Qutaibah
bin Said (w. 240 H)
Nama
lengkapnya adalah Qutaibah bin Said al-Saqofi dengan julukan Abu Raja’, ia
menetap di Baglani. Ia lahir pada tahun 150 H dan wafat pada umur 90 tahun pada
tahun 240 H. Ia banyak belajar dari Malik bin Anas, Al-Laits bin Sa’ad,
Muhammad bin Ismail, Muhammad bin Ja’far, Muhammad bin Bakr, dan lain
sebagainya. Adapun muridnya antara lain Ibrahim bin Ishak, Ahmad bin Hambal,
Ahmad bin Abdur Rahman, J’far bin Muhammad bin Hasan, Nasa’I, dan
lain sebagainya. Menurut Abu Hatim dan Ad-zahabi, Qutaibah adalah orang yang
tsiqoh.[13]
5. Nasa’i ( W. 303 H/ 915 M )
An-Nasai adalah nama tempat tinggal yaitu nasa’. Beliau memiliki nama asli
yaitu Ahmad bin Syua’ib bin Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar. Beliau merupakan
mukhorij yang ulung dengan mengklasifikasikan kitab hadisnya dipisah antara
shohih, ma’ruf, hasan, bahkan dhoif. Beliau memiliki kitab sunan al-kubro
kemudian di revisi menjadi kitab al-mujtaba dan sekarang lebih dikenal dengan
sebutan sunan an-nasa’i. Beliau lahir 215 H dan beliau wafat pada hari senin,
13 shafar 303 H (915 M) di al-ramlah dan dikubur diantara shofa dan marwah pada
usia 85 tahun.[14]
Kesimpulan
Dari kajian sanad di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
sanad hadis ini memenuhi syarat keshahihan sanad. Semua syarat keshahihan sanad
telah dapat terpenuhi. Syarat-syarat keshahihan sanad ialah ketersambungan
sanad (ittishal al-sanad), para perawinya kredibel (tsiqqahu al-ruwah),
intelektualitas perawi (dhabtu al-ruwah). Semua rijal yang terlibat
dalam periwayatan terbukti memiliki relasi sebagai guru-murid. Kredibilitas
maupun intelektualitas mereka juga tidak perlu dilakukan lagi. Tidak ada
seorang perawi pun yang berstatus dhaif. Tidak ada cela ('illat) pada
para rijal tersebut.
[1]Ibnu Abdil Bar, al-Isti'ab fi Ma'rifati
Ashab (Beirut: Dar al-Jil, 1312 H), jld. 3, h. 951
[5]Al-Daruquthni, Dzikru Asma' al-Tabi'in Waman Ba'dahum
(Beirut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah, 1985), jld. 2, h. 259
[6]Muhammad bin Abdullah al-Rib'i, Maulid
al-Ulama wa Wafayatuhum (Riyad:
Dar al-Ashimah, 1410 H), jld. 1, h. 273.
[7]Muhammad bin Abdullah al-Rib'i, Maulid
al-Ulama wa Wafayatuhum (Riyad:
Dar al-Ashimah, 1410 H), jld. 1, h. 273.
[9]Abu Ya'la, al-Irsyad (Riyadh:
Maktabah al-Rusyd, 1409 H), jld. 1, h. 205.
[10]Al-Suyuthi, Thabaqah a-Khuffadz
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H), h. 47.
Komentar
Posting Komentar