Al-Maudhu Al-Insan Fil Qur’an
Al-Maudhu
Al-Insan Fil Qur’an
Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Studi Kitab
Tafsir Modern
Dosen Pengampu
: Muhammad Mansur

Oleh :
Ismi
Wakhidatul Hikmah (15530061)
PRODI ILMU
AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan waktu
dan teknologi, ilmu pengetahuan juga mengalami pergeseran-pergeseran yang lebih
maju dari sebelumnya. Terkhusus ilmu tentang tafsir al-Qur’an yang mengalami
perkembangan yang pesat dalam kajiannya.
Tafsir yang lebih relefan untuk
digunakan di abad modern seperti ini adalah tafsir modern yang mampu menjawab
problematika yang terjadi di abad ke 20-an ini. Salah satu contoh tafsir yang
berkembang di era modern ini adalah tafsir al-Maudhu al-Insan fil Qur’an karya
Abbas Mahmud al-Aqqad.
Dalam tafsir al-Maudhu al-Insan fil
Qur’an membahas bagaimana sebenarnya tafsir manusia menurut al-Qur’an di abad
modern. Tadsir ini akan memberi pencerahan terhadap manusia-manusia di era
modern seperti sekarang ini.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka akan dirumuskan sebagai
berikut:
1.
Bagaimana penulisan kitab tafsir
al-Maudhu al-Insan fil Qur’an?
2.
Apa metode penulisan kitab tafsir
al-Maudhu al-Insan fil Qur’an?
3.
Bagaimana contoh penafsiran dalam
kitab tafsir al-Maudhu al-Insan fil Qur’an?
C.
Seputar Kitab
Penulisan
kitab al-maudhu al-insan fil qur’an menggunakan metode tematik (maudhu’i),
dalam kitab ini membahas manusia dalam al-qur’an secara detail, Al-Aqqad dalam
menulis kitab ini mengumpulkan
serangkaian pendapat para filosof, intelektual, dan pakar tentang
manusia.[1]
Kitab
ini memiliki Tema manusia dalam al-Qur’an merupakan pokok pembahasan al-Aqqad.
Ia berangkat dari kritik yang ditujukan kepada tiga aliran, yakni materialism
histori, rasionalisme dan fasisme. Berikut merupakan bunyi kritik yang
dilontarkan al-Aqqad terhadap ketiga aliran tersebut, yaitu:
1.
Materialism
histori menganggap manusia sebagai uang (currency) dalam hubungan ekonomi di
pasar industry dan perdagangan. kenaikan dan kemerosotan nilai klasnya
ditentukan oleh hokum penawaran dan permintaan serta oleh prinsip keuntungan
dan kerugian. Dengan demikian pula soal kemanusiaan, ajaran materialism histori
mengatakan bahwa kemanusiaan merupakan sesuatu yang tidak ada
kenyataannya karena segala sesuatunya diciptakan oleh harga upah.
2.
Fasisme
mengatakan bahwa manusia adalah satu dan berasal dari ras “tuan” atau ras yang
dipertuan. Sedangkan manusia-manusia lainnya adalah budak dari ras tuan, dan
sebelum itu ras tuan adalah budak bagi “tuan” sebagai manusia pilihan.
3.
Rasionalisme
mengatakan bahwa kemanusiaan manusia sesungguhnya merupakan sesuatu yang tidak
ada kenyataannya . Itu hanya angan-angan dan khayalan belaka. Yang benar-benar
ada sebagai kenyataan adalah manusia individu! Hal itu dibuktikan kebenarannya
oleh kenyataan, bahwa individu dapat berbuat apa saja, yang menguntungkan
ataupun yang merugikan, pada saat ia terpisah dari orang lain dan dari
peristiwa-peristiwa kemasyarakatan.
Dari
kritik atau ketidakpuasan al-Aqqad terhadap ketiga aliran tersebut, al-Aqqad
ingin menggali nilai-nilai al-Qur’an yang berbicara tentang manusia. Dengan
bahasa lain, al-Aqqad ingin mencari solusi yang ditawarkan al-Qur’an terhadap
problem kemanusiaan.
Menurut
al-Aqqad, manusia Al-Qur’an adalah manusia abad kedua puluh karena dalam abad
ini kedudukan manusia lebih serasi dan lebih kokoh daripada kedudukannya dalam
abad-abad sebelumnya. Karena abad-abad yang lalu tidak mendorong manusia sekuat
dorongan yang diberikan oleh abad kedua puluh untuk membahas kedudukannya di
tengah alam wujud, di tengah semua makhluk yang hidup di muka bumi, di tengah
makhluk sejenisnya dan masyarakat tempat ia hidup, dan tidak pula memberi
dorongan kepadanya untuk hubungannya dengan segala sesuatu yang tampak nyata
ataupun yang tersembunyi.[2]
D. Sistematika kitab
Kitab ini
merupakan sebuah kitab tafsir Maudhu’i (tematik) yang terdiri dari 163 halaman
dan dibagi kedalam dua Kitab. Kitab yang pertama berbicara mengenai
Manusia (Insan) dalam al-Quran dan kemudian dibahas dalam beberapa Bab.
Pembahasan dalam kitab pertama ini mencakup pembahasan-pembahasan mengenai
manusia dan sifat-sifatnya serta hal-hal yang terkait dengan manusia yang ada
dalam al-Quran, pada bab ini dipaparkan dalil-dalil al-Quran yang bersinggungan
dengan berbagai pembahasan yang sedang dipaparkan. Dan
pada Kitab kedua, terdapat pembahasan mengenai manusia
(Insan) dalam Madzhab keilmuan dan pemikiran. Pada bab ini, dipaparkan
diskusi-diskusi tentang manusia dalam kaitannya dengan teori-teori ilmiah
seperti teori evolusi Darwin atau pandangan-pandangan tokoh tentang manusia
serta dampak/implikasinya baik di dunia barat dan timur, serta kesiapan manusia
menyongsong keilmuan-keilmuan lainnya.[3]
Untuk lebih
mempermudah pemahaman mengenai sistematika penulisan kitab ini, berikut kami
paparkan tabel mengenai daftar isi kitab:
|
المخلوق المسئول
الكائن المكلف
روح و جسد
النفس
الأمانة
التكليف و الحرية
أسرة واحدة
آدم
|
الكتاب الآول في القرآن
|
|
عمر الإنسان
الإنسان و مذهب التطور
التطور قبل مذهب التطور
أثر مذهب النشوء في الغرب
مذهب التطور في الشرق العربي
الدين و مذهب الدارون
سلسلة الخلق العظمى
الإنسان في علم الحيوان و في علوم الأجناس
البشرية
الإنسان في علوم النفس و الأخلاق
مستقبل الإنسان في علوم الأحياء
عود على بدء
|
الكتاب الثاني في مذهب العلم و الفكر
|
E.
Metodologi penulisan
Tafsir al-Insan fi al-Qur’an menggunakan metodologi tafsir
tematik atau tafsir al-manhaj al-maudlu’iy sebagaimana yang telah
digunakan oleh para penafsir-penafsir sebelumnya. Dengan menggunakan metode tafsir tematik maka mudah untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Quran yang mempunyai maksud yang sama, dalam
arti sama-sama membahas satu topik masalah dan manyusunnya berdasarkan
kronologis dan sebab turunnya ayta-ayat tersebut, selanjutnya mufassir mulai
memberikan keterangan dan penjelasan serta mengambil kesimpulan.[4]
Pada tafsir
ini al-Insan fi al-Qur’an, Abbas Mahmud Aqqad sepertinya hanya
mendeskripsikan suatu tema kemudian beliau mengaitkannya dengan ayat-ayat dalam
al-Qur’an dan tidak menjelasakan kata per kata dari ayat-ayat tersebut. Sebagaimana
yang kita ketahui bahwa beliau adalah seorang kritikus, sastrawan, dan jurnalis
tidak mungkin beliau menjelaskan kata per kata dari al-Qur’an karna memang
bukan bidangnya. Sama halnya dengan tafsir ini, beliau hanya mengumpulkan
serangkaian pendapat dari kalangan ulama’, filosof, dan ahli di bidang “manusia”
dan menjelaskannya secara keseluruhan kemudian mengaitkan dengan ayat-ayat
al-Qur’an yang berhubungan dengan itu.[5]
F. Contoh
قصة ادم
عليه السلام فى القران هي قصة الانسان الأول...خلق من تراب و ارتقي بالخلق السوى
الى منزلة العقل والاردة وتعلم من الأسماء فضلا من العلم ميزه على خلائق الأرض, من
ذى حياة وغير ذى حياة....وقضى له أن يكسب فضله بجهده, وأن يكون جهده غلبة لارادته
وانتصارا لعقله على جسده...و قصة هذه النشأة الادمية يستوفيها القران في هذه
الايات:
1.
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ[6]
2.
ذَلِكَ عَالِمُ
الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦) الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ
شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ (٧) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ
مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (٨) ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ(9) [7]
G. Kesimpulan
Penulisan
kitab al-maudhu al-insan fil qur’an menggunakan metode tematik (maudhu’i),
dalam kitab ini membahas manusia dalam al-qur’an secara detail. Kitab ini memiliki Tema
manusia dalam al-Qur’an merupakan pokok pembahasan yang khusus yang di tulis
oleh Abbas Mahmud
al-Aqqad.
Kitab ini
terdiri dari 163 halaman dan dibagi kedalam dua Kitab. Kitab yang
pertama berbicara mengenai Manusia (Insan) dalam al-Quran dan kemudian dibahas
dalam beberapa Bab. Pembahasan dalam kitab pertama ini mencakup
pembahasan-pembahasan mengenai manusia dan sifat-sifatnya.
Tafsir al-Insan fi al-Qur’an menggunakan metodologi tafsir
tematik atau tafsir al-manhaj al-maudlu’iy sebagaimana yang telah
digunakan oleh para penafsir-penafsir sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Ali Muaziz, al-Insan fi al-Qur'an Karya al-Aqqad, di akses pada
laman http://kajianhds.blogspot.co.id
/2015/04/kajian-kitab-tafsir-al-insan-fi-al.html, di akses pada 20
november 2016
Baidan, Nushruddin. 1988. Metodologi Penafsiran al-Qur’an. Jakarta: Pustaka
Pelajar.
Mahmoud A,
Abbas. 1993. Manusia
Diungkap Qur’an terj. Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka
Firdaus.
[1]
Abbas Mahmud al-Aqqad, Insan Qur’an Abad
modern terj, (Yogyakarta:
Titian Ilahi Press, 1995) hlm. 9
[2] Abbas Mahmoud Al-Aqqad, Manusia
Diungkap Qur’an terj. Pustaka Firdaus, (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1993), hlm. 1
[3] Ali Muaziz, al-Insan
fi al-Qur'an Karya al-Aqqad, di akses pada laman http://kajianhds.blogspot.co.id
/2015/04/kajian-kitab-tafsir-al-insan-fi-al.html, di akses pada 20
november 2016.
[5]
Ali Muaziz,
al-Insan fi al-Qur'an Karya al-Aqqad, di akses pada laman http://kajianhds.blogspot.co.id
/2015/04/kajian-kitab-tafsir-al-insan-fi-al.html, di akses pada 20
november 2016.
[6] QS.
Al-Mu’minun, ayat 12
Komentar
Posting Komentar