HERMENEUTIKA




RANGKUMAN HERMENEUTIKA

Dosen Pengampu : Dr. Phil. Sahiron, M.A.






Oleh :

Ismi Wakhidatul Hikmah (15530061)





PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2016

HERMENEUTIK

A.    Pengertian dan Ruang Lingkup Hermeneutik

Hermeneutik adalah disiplin ilmu yang berkaitan dengan penafsiran, interpretasi, dan pemahaman teks. Menurut Friedrich August Wolf dalam ceramahnya pada sekitar tahun 1785 hingga 1807 Masehi mendefiniskan hermeneutik sebagai berikut, “Hermeneutik adalah ilmu tentang kaidah dan aturan dimana dengan bantuannya akan bisa dipahami makna dari suatu pesan dan teks”. Menurut Friedrich Daniel Ernest Schleiermacher (1768-1834) memandang hermeneutik sebagai “keahlian memahami”. Menurut Wilhelm Dilthey (1833-1911) beranggapan bahwa hermeneutik sebagai sebuah pengetahuan yang bertanggung jawab terhadap penyajian metodologi humaniora.

Ruang lingkup hermeneutika sebagai berikut   Hermeunitika sebagai Teori Penafsiran Kitab Suci, Hermeunitika sebagai Metode Filologi,   Hermeunitika sebagai Ilmu Pemahaman Linguistik, Hermeunitika sebagai Fondasi Metodologis dari geiteswissenschaften, Hermeunitika sebagai Fenomenologi Dasein dan Pemahaman Eksistensial, dan Hermeunitika sebagai Sistem Penafsiran.

B.     Sejarah perkembangan hermeneutika

1.      Hermeneutika teks mitos

Sebagai embrio, hermeneutika telah sisinggungan dalam filsafat yunani kuno. Obyek penafsiran pada saat itu teks-teks kanonik (telah dibukukan), baik berupa kitab suci, hukum, puisi, maupun mitos.

Pembedaan antara maknah hakiki (literat) dan makna majazi (allegoris) pertama kali dilakukan oleh Homer dan Mhesiod. Menguak ‘makna terdalam di balik kata-kata’ (hintersinn; untersinn) adalah suatu tugas hermeneutis yang mereka lakukan.

2.      Hermeneutika teks kitab suci

Penafsiran allegoris kemudian dikembangkan terutama oleh para filosof Stoa dan dipraktekan oleh para teolog masa patristik, seperti Philo von Alexanderien, dia dikenal dengan “Vater der Allegorese” (Bapak penafsiran allegoris).

Namun, yang perlu dicatat adalah bahwa kriteria penafsiran pada pertengahan (Mittelalter) masih terikat dengan tradisi dogmatik kristen.

3.      Hermeneutika umum (allgemeine hermeneutik)

Pada masa modern hermeneutika tidak hanya terikat dengan teks-teks kanonik saja, melainkan juga terkait dengan segalahal yang bisa ditafsirkan. Jadi, hal ini menyangkut seluruh bidang ilmu sosial. Inilah yang disebut dengan allgemeine (atau,universale) hermeneutik atau hermeneutica generalis.

            Hermenetik memiliki aliran-aliran dalam penafsifan yaitu diantaranya:

1.      Aliran obyektivis: aliran yang lebih menekankan pada pencarian makna asal dari obyek penafsiran (teks tertulis, teks diucapkan, prilaku, simbol-simbol kehidupan dll.). Jadi, penafsiran adalah upaya merekonstruksi apa yang dimaksud oleh pencipta teks. Di antara yang bisa digolongkan dalam aliran ini adalah pemikiran Schleiermacher dan Dilthey.

2.      Aliran subyektivis: aliran yang lebih menekankan pada peran pembaca/penafsir dalam pemaknaan terhadap teks. Pemikiran-pemikiran yang tergolong dalam aliran ini beragama. Ada yang sangat subyektivis, yakni ‘dekonstruksi’ dan reader-response criticism; ada juga agak subyektifis, yakni postrukturalisme; dan ada juga yang kurang subyektivis, yakni strukturalisme.

3.      Aliran yang berberada di tengah-tengah antara dua aliran di atas. Yang bisa dimasukkan dalam kategori ini adalah pemikiran Gadamer dan Gracia. Aliran ini memberikan keseimbangan antara pencarian makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran. 

A.    Aliran Obyektivis

1.      Hermeneutika Friedrich Schleiermacher (1768-1834)

·         Pemikiran Hermeneutika Schleiermacher.

1.    Posisi Hermeneutika dalam ranah keilmuan

       Schleiermacher menempatkan hermeneutika di posisi yang luas. Artinya, objek hermeneutika bukan hanya sebatas teks bibel, namun apapun itu yang memiliki makna. Dia memandang, hermeneutika bukan hanya sebagai metode penafsiran. Akan tetapi, hal itu juga sebagai sesuatu yang membicarakan tentang hal-hal yang mendasar,

Berpijak dari pandangan yang seperti itu, secara tidak langsung, Schleiermacher telah membagi pengertian hermeneutik ke dalam dua bagian: sempit dan luas. Yang pertama karena Schleiermacher masih menganggap hermeneutika sebagai metode penafsiran dan yang kedua karena dia telah menempatkan hermeneutika sebagai hermeneutika filosofis. Schleiermacher memiliki pandangan seperti itu karena dia menginginkan hermeneutika bisa berdiri sendiri sebagai sebuah teori ilmu pengetahuan.

 Hermeneutika tidak bisa dipisahkan dengan retorika sebab retorika adalah tindakan berkata. Sedangkan hermeneutika adalah tindakan memahami. Berkata tanpa adanya proses memahami tidak akan pernah ada. Begitu juga sebaliknya—terlepas dari bagaimana model retorika—tanpa berkata proses memahami tidak akan pernah ada. Maka dari itu, Schleiermacher menyebut bahwa setiap tindakan memahami merupakan inversion of speech—act.

Begitu juga dengan dialektika. Hermeneutika tidak bisa lepas darinya. Mudahnya, hermeneutika adalah proses dari bahasa ke pemikiran. Sedangkan dialektika merupakan proses dari pemikiran ke bahasa

2.    Hermeneutika Grammatikal dan Psikologis.

Schleiermacher mengatakan bahwa pokok kajian hermeneutikanya adalah tentang grammatical dan psikologis. Secara simpel dia menyimpulkan bahwa pemahaman hanyalah sebuah keberadaan dua keadaan yang saling terkait: grammatikal dan psikologi. Hermeneutika grammatikal mempelajari tentang bahasa dan sejarahnya. Sedangkan yang kedua memandang bahasa itu sebagai ungkapan hidup seseorang.

·         Hermeneutika Grammatikal

          Adalah penafsiran yang didasarkan atas analisa bahasa. Melalui analisa bahasa—menurut Schleiermacher—sisi objektif sebuah penafsiran bisa ditemukan. Artinya, untuk memahami secara objektif, seseorang harus melalui dengan menganalisa bahasanya. Dan untuk menemukan itu, ada beberapa kaidah linguistik yang perlu dibahas.

a.    Pengetahuan terhadap sejarah kapan kali pertamanya bahasa yang ditafsirkan itu muncul.

       Berbicara tentang ini, berbicara pula tentang sasaran pertama bahasa tadi ditujukan. Artinya, dalam memahami grammatikal sebuah teks misalnya, seseorang harus mengetahui makna teks itu sendiri dan konteksnya. Termasuk di dalamnya adalah siapa yang pertama menerimanya, kapan diterimanya, dan sistem bahasa ketika itu.

b.    Hubungan antarkata dalam kalimat dan hubungan antarkalimat.

  Melalui ini, Schleiermacher memandang bahwa untuk memahami sebuah kata, seseorang harus memahami pula kata-kata sebelum maupun sesudah kata tadi. Sebagai konsekuensinya, hal itu akan melahirkan pemahaman yang luas. Dan pemahaman yang seperti itulah yang lebih dekat dengan pemahaman yang objektif.

c.    Whole dan part

  Adalah menjadikan sejarah hidup penulis—whole—sebagai bagian dari tulisan-tulisannya—part—dan menjadikan tulisan-tulisannya sebagai sejarah hidupnya. Secara sederhana, karya seseorang itu hanya dapat dipahami secara baik dengan cara memperhatikan sistem bahasa yang dimiliki penulis beserta sejarah hidupnya. Begitu juga sebaliknya: sistem bahasa dan sejarah hidup seseorang bisa dipahami melalui karyanya. Sehingga, dengan prinsip ini, seseorang tidak akan kehilangan maksud awal dari pengarang dalam menuliskan karyanya.

·         Hermeneutika Psikologis

          Dalam hemeneutika psikologis, Schleiermacher menawarkan dua metode: divinatory dan komparasi. Divinatory adalah penyelaman langsung ke dalam jiwa seseorang. Sedangkan komparasi adalah metode membandingkan seorang pengarang dengan orang-orang lain dengan asumsi bahwa semuanya memiliki kesamaan-kesamaan. Kedua metode ini bisa disebut sebagai metode hirarki. Artinya, keduanya tidak bisa dipisahkan. Untuk mengukur sudah seberapa jauhkah seseorang berhasil menyelami jiwa pengarang adalah dengan metode komparasi.

B.     Aliran Objektivis Cum Subjektivis

1.      Hermeneutika Hans Georg Gadamer


Gadamer memiliki teori-teori pokok hermeneutika Gadamer secara ringkas terbagi menjadi empat: kesadaran atas keterpengaruhan sejarah, teori prapemahaman, teori penggabungan horison, dan teori aplikasi. Keempat teori tersebut, bisa dikatakan bersifat hierarki. Artinya, teori pertama merupakan suatu keniscayaan bahwa setiap orang pasti memiliki sejarah, pengalaman, dan kenangan. Dan jika itu dikaitkan dengan penafsiran, maka tidak bisa tidak sejarah tersebut pasti mempengaruhi proses penafsiran dan inilah yang disebut sebagai teori kedua: teori prapemahaman. Kedua teori ini, tidak bisa dilepaskan. Sebelum seseorang memiliki prapemahaman, pasti dia sadar kalau dia memiliki sejarah atau—biasanya disebut—effective history. 

      Selanjutnya adalah teori penggabungan horison atau penggabungan wawasan. Horison di sini yang dimaksudkan adalah dua horisan, yaitu horison penafsir dan horison teks. Horison penafsir adalah prapemahaman penafsir yang setiap orang yang sadar akan effective historis pasti memilikinya. Sedangkan horison teks adalah pemahaman apa adanya teks sebelum dipahami si penafsir yang bersangkutan. Untuk menemukan makna apa adanya sebuah teks, Gadamer meminjam metode analisa bahasa dan sejarahnya Schleiermacher. Kemudian, setelah menemukan makna apa adanya sebuah teks, penafsir menggabungkan prapemahamannya dengan pemahaman teks yang apa adanya tadi dengan metode refleksi, salah satu metode yang digunakan dalam aliran Subjektifis. Dengan demikian, ketika keduanya sudah dikomunikasikan, maka lahirlah suatu pemahaman yang baru dan lebih segar menurut alirannya.      Terakhir, teori aplikasi. teori ini hanya membicarakan tentang bagaimana seharusnya sebuah teks itu diaplikasikan. Atau bahasa lainnya adalah dari pemahaman yang bagaimanakah sebuah teks bisa diaplikasikan. Menjawab itu, mengetahui dalam rentetan teori di atas ada beberapa langkah pemahaman—mulai dari horison penafsir, horison teks, dan fusi dari keduanya—maka, yang patut diaplikasikan di sini adalah pemahaman yang terakhir, yaitu pemahaman yang terpacu pada meaning full sense, bukan literal meaning. 

C.     Hemeneutika Jorge J. E. Gracia

    Gracia mendefinisikan interpretasi sebagai kumpulan dari tiga entitas, yaitu interpreter, interpretandum, dan interpretan. Interpreter adalah seorang penafsir. Interpretandum adalah teks yang ditafsirkan secara apa adanya atau biasanya disebut sebagai terjemahan. Kemudian interpretan adalah keterangan tambahan dalam penerjemahan. Dengan demikian dari ketiga entitas di atas, bisa dipahami baha aktivitas menafsir berbefa dengan aktivitas menerjemah. Penafsiran tidak bisa tidak melibatkan interpretan, sedangkan penerjemahan cukup dengan interpreter dan interpretandum.

      Sebagai kelanjutan atas pandangannya tentang interpretasi, dalam hermeneutikanya, Gracia banyak membicarakan tentang fungsi interpretasi. Interpretasi memiliki tiga fungsi, yaitu historical function, meaning function, mdan implicative function. Pertama, interpretasi berfungsi menciptakan kembali makna yang dikehendaki author dan yang dipahami penerima awal. Adapun metode yang dipakai untuk mengetahui makna tersebut adalah metodenya aliran objektivis sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kedua, interpretasi berfungsi menciptakan makna yang sesuai dengan konteks kekinian maupun kedisinian dan itu terlepas dari apa yang sebenarnya dikehendaki author.

Ketiga, interpretasi berfungsi untuk mengembangkan makna secara luas dari banyak tinjauan dan sama sekali lepas dari hubungan semantik dengan historical function.

·         Interpretasi menurut Gracia    

    Gracia membagi interpretasi menjadi dua bagian, yaitu interpretasi tekstual dan interperetasi nontekstual. Interpretasi tekstual adalah penafsiran terhadap teks dengan cara menambahkan keterangan-keterangan yang dirasa penting oleh penafsir ke dalam teks yang ditafsirkan untuk mendapatkan hasil-hasil tertentu terkait teks.

       Selanjutnya mengenai interpretasi nontekstual. Sebenarnya, interpretasi ini tidak bisa tidak di dasarkan pada interpretasi tekstual, namun mempunyai tujuan lain yang berbeda dengan interpretasi tekstualis. interpretasi nontekstual, bertujuan untuk menguak dibalik makna tekstual.

·         Strukturalisme dan Post Strukturalisme

Strukturalisme merupakan praktik signifikansi yang membangun makna sebagai hasil struktur atau regularitas yang dapat diperkirakan dan berada diluar diri individu.

Strukturalisme muncul di tahun 1960an berbasis karya Ferdinand de Saussure yang diorientasikan untuk memahami struktur-struktur yang mendasari bahasa. Basis teorinya berasal dari linguistik. Menurut aliran ini, setiap orang di masyarakat mengetahui bagaimana caranya menggunakan bahasa meskipun mereka tidak peduli akan aturan-aturan berkenaan dengan tata bahasa. Strukturalisme didasarkan pada kepercayaan bahwa obyek budaya itu seperti literatur, seni dan arsitektur. Harus dipahami dalam konteks-konteks yang lebih besar dimana mereka berada dan berkembang. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengemukakan prinsip-prinsip universal dari pikiran manusia yang menjadi dasar karakter budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan manusia.

Sedangkan Post-strukturalisme mengandung pengertian kritik maupun penyerapan. Menyerap berbagai aspek linguistik struktural sambil menjadikannya sebagai kritik yang dianggap mampu melampaui strukturalisme. Sigkatnya, post-strukturalisme menolak ide tentang struktur stabil yang melandasi makna melalui pasanan biner (hitam-putih, baik-buruk). Makna adalah sesuatu yang tidak stabil, yang selelu tergelincir dalam prosesnya, tidak hanya dibatasi pada kata, kalimat atau teks tertentuyang bersifat tunggal, namun hasil hubungan antar teks. Sama seperti pendahulunya, bersifat antihumanis dalam upayanya meminggirkan subjek manusia yang terpadu dan koheren sebagai asal muasal makna stabil.

·         Derida ( Dekontruksi)

            Dengan demikian Derrida tidak hanya menggambarkan maksud teks-teks yang dibacanya secara persis, tetapi juga mengubahnya menjadi teks yang memiliki makna baru. Dua konsep itu yakni deskripsi/penggambaran (description) dan transformasi (transformation) dapat digabungkan menjadi dekonstruksi (deconstruction).

·         Filsafat dan Ilmu pemahaman

filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Pengertian filsafat menurut Anton Bakker, Achmad Charris, Zubair, bahwa filsafat merupakan eksplisitas tentang hakikat realitas yang ada dalam kehidupan manusia, yakni hakikat manusia itu sendiri, hakikat semesta, bahkan hakikat Tuhan, baik menurut segi struktural, maupun menurut segi normatifnya.

Sedangkan teori pemahaman adalah Suharsimi menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan.

·         Teori Kebenaran ( Truth )

1.      Corressponence theory

Sebuah pernyataan itu benar apabila sesuai dengan kenyataan/ fakta.

2.      Coherence theory

Sebuah pernyataan benar jika sesuai dengan keinginan tertentu.

3.      Pragmantisme

Sebuah pernyataan yang mengandung perintah atau kabar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-BURHAN, AD-DIN, AD-DUNYA, AL-FITHRAH DAN AL-HIFZH DALAM PEMAKNAAN AL-QUR’AN

Larangan Berbisik-Bisik

Kajian Hadis Silaturahmi