WUJUH DAN NADZIR
WUJUH DAN
NADZIR
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu
: H. Muhammad Chirzin

Oleh :
Ismi
Wakhidatul Hikmah (15530061)
PRODI ILMU
AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penyusun ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat, Hidayah
serta Inayah-Nya, dan tidak lupa shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada
junjungan kita nabi agung Muhammad SAW, sehingga dalam pembuatan makalah dengan
judul “WUJUH DAN NADZIR” diberikan kelancaran dan kemudahan.
Pembuatan makalah
ini betujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah ulumul qur’an II.
Dalam penyusunan
makalah ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Dosen mata
kuliah Pancasila, Bapak Muhammad
Chirzin
yang telah memberikan bimbingan kepada penyusun dalam penyusunan makalah ini;
2.
Orang tua
penyusun, yang telah memberikan dukungan moril dan materil;
3.
Kawan
seperjuangan yang telah memberi motivasi
penyusun dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan
makalah ini penyusun sadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penyusun
mengharapkan kritik dan saran pembaca, sehingga makalah ini menjadi lebih baik.
Semoga karya tulis ini dapat memberikan
wawasan tentang wujuh dan nadzir dalam
al-qur’an.
Yogyakarta,
12 Januari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................
KATA PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR ISI............................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 4
1.1 LATAR
BELAKANG.................................................................................. 4
1.2 RUMUSAN
MASALAH.............................................................................. 4
1.3 TUJUAN ...................................................................................................... 4
BAB
II PEMBAHASAN.........................................................................................
2.1 HISTORIS WUJUH DAN
NADZHIR........................................................ 5
2.2 PENGERTIAN WUJUH DAN NADZIR.................................................... 6
2.3 WUJUH DAN NADZHIR
DALAM ALQUR’AN..................................... 7
2.4 WUJUH DAN NADZIR
SEBAGAI FENOMENA KEBAHASAAN...... 13
2.5 WUJUH DAN NADZIR
SEBAGAI KEWAHYUAN............................... 15
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN............................................................................................. 17
4.2 SARAN
........................................................................................................ 17
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Al-qur’an merupakan kitab suci bagi kaum
muslimin di seluruh penjuru dunia. Dalam setiap seluk beluk, tindak tanduk
kehidupan seseorag telah diatur dengan baik dalam al-Qur’an oleh Allah SWT.
Al-Qur’an memang diciptakan sebagai petunjuk, pembeda, penerang bagi umat umat
manusia baik itu dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan lainnya telah
digariskan dalam al-Qur’an tentang tahriqah yang halal dan sesuai dengan
syari’at Allah SWT.
Makna yang disampaikan oleh Allah kepada umat
manusia dalam al-Qur’an tidak hanya monoton dengan satu gaya atau model, tetapi
memiliki bervarian cara dalam memahamkan hambanya, baik itu dalam bentuk kisah,
janji, ancaman, perumpamaan dan corak lainnya. Alqur’an memiliki gaya bahasa
yang menarik, indah, dan menawan yang tak memungkinkan seorangpun dalam membuat
al-Qur’an yang semisal dengannya. Tata bahasa al-Qur’an itu tidaklah mudah
dipahami semuanya, namun ada makna-makna tertentu yang membutuhkan kepada
penilikan lebih dalam. Maka salah satu kaidah yang dibutuhkan dalam menafsirkan
al-Qur’an agar tidak terjadinya distorsi makna adalah wujuh dan nazhair.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana historisitas wujuh dan nazhair ?
2. Apa pengertian dan macam-macamnya dalam alQur’an wujuh dan nazhair ?
3. Bagaimana fenomena wujuh dan nazhair dalam analisa kebahasaan?
4. Bagaimana fenomena wujuh dan nazhair dalam
analisa kewahyuan?
C.
Tujuan
1.
Untuk memahami historisitas wujuh dan nazhair.
2.
Agar paham dengan hakikatdan macam-macamnya wujuh
dan nazhair.
3.
Untuk memahami wujuh dan nazhair dalam analisa
kebahasaan.
4.
Untuk memahami wujuh dan nazhair dalam analisa
kewahyuan.
BAB
II
Pembahasan
A.
Historisitas
Wujuh dan Nazhair
Pembahasan
ilmu wujuh dan nazhair dalam alqur’an telah terjadi sebelum perkembangan
keilmuan islam dan pemisahan antara suatu ilmu dengan yang lainnya. Wujuh dan
nazhair ini lahir pada abad kedua hijriah,ditandai dengan karya Muqatil bin
Sulaiman dalam karangannya “wujuh wan nazhair fil qur’anil karim”. Selain itu
juga ada kitab terkait hal tersebut, namu karyanya tidak sampai ke tangan kita
yaitu “kayfu dzunun karya Ibnu Abbas dan
karya Ali bin Abi Talhah.
Sejatinya
ini bukanlah sebagai sebuah awal permunculan
kata wujuh dalam perkembangan tafsir, tetapi ada sebuah kisah tentang Ibnu
Abbas danAli bin Abi Thalib, ketika Ali mengutus Ibnu Abbas kepada kaum
khawarij dan mengatakan “ اذهب
إليهم فخاصمهم ولا تحاجهم بالقرآن فإنه حمال ذو وجوه, ولكن خاصمهم بالسنة
“. Setelah adanya kisah ini tidak ada penjelasan lagi dari Ibnu Abbas tentang
makna wujuh tersebut karena ini merupakan suatu perkara yang dipahami tentang
al-Qur’an.
Muqatil
juga telah menyebutkan suatu hadis marfu’ bahwasanya “لا يكون رجل فقيها كل الفقه حتى يرى للقرآن وجوها كثيرة
“. Maka wujuh merupakan suatu hal yang penting dalam masa ini dalam sebuah
produk penafsirannya. Kaidah ini merupakan bagian yang penting dalam tafsir
al-Qur’an di zaman sahabat dan tabi’in baik itu berupa lafzhy maupun tarkibi.
Seiring
berjalan zaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan, secara berangsur- angsur
bagian-bagian dari suatu ilmu itu telah membentuk disiplin ilmu tersendiri
tanpa tercampur lagi antara satu dan lainnya. Maka dalam hal penafsiran
muncullah karangan-karanagan tersendiri terhadap kaidah wujuh wan
nazhair.Adapun kitab-kitab yang berkaitan dengan wujuh wan nazhair adalah wujuh
wan nazhair fil qur’anil karim karangan Muqatil bin Sulaiman, wujuh wan nazhair
fil qur’anil karim karangan Harun bin Musa, tashariif karanagan Yahya bin
Salam.[1]
B.
Pengertian Wujuh Dan Nadha’ir.
kata wujuh dicetuskan
oleh ungkapan yang disampaikan Ali bin Thalib. Kata ini juga telah terpakai
dalam sebuah hadis yang marfu’. Ini merupakan ungkapan pertama yang
menggunakan kata wujuh terkait dengan nash Al
Qur’an. Lantas, apakah maksud dari kata itu dalam bahasa Arab?Wajh pada
dasarnya merujuk kepada makna sesuatu yang di depan. Wajh al-bait merupakan
bagian depan rumah yang mempunyai pintu. Wajh al-faras adalah
bagian depan dari kepalanya. Wajh al-nahar merupakan permulaan
siang, begitu juga dengan wajh al-dahr, berarti permulaan
tahun. Wajh al-najm adalah bagian bintang yang terlihat oleh
manusia. Wajh al-kalam merupakan inti pembicaraan yang
mangandung maksud yang dituju pembicara. Dari makna dasar ini, dan dari
pemakaian kata wajh oleh Ali bin Abi Thalib, dipakaikanlah
redaksi wujuh sebagai suatu nama dari diskursus tertentu
dalam Ulum Al-Qur’an yang membahas lafaz-lafaz Al Qur’an yang
memiliki beragam tunjukan makna.[2]
Menurut
as-Suyuthi, ilmu tentang wujuh dan nadha’ir pertama kali disusun
oleh Muqatil bin Sulaiman dan di lanjutkan oleh ulama-ulama setelahnya, antara
lain: Ibnu Jauzi, Ibnu Damighani, Abul Husain, Muhammad bin Abdush Shamad
al-Mishri.
Wujuh adalah
kata yang memiliki banyak makna, sedangkan nadha’ir adalah kata yang hanya
mempunyai satu makna yang tetap.
Muqatil bin Sulaiman meriwayatkan yang
disandarkan kepada Nabi: “Seseorang tidak akan benar-benar paham al-Qur’an
sebelum dia mengetahui makna yang beragam (wujuh) dari al-Qur’an.”
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan sebuah hadits yang
berasal dari Hammad Zaid, dari Ayyub, dari Abu Qalabah, dari Abu Darda’:
“Sesungguhnya engkau tidak akan benar-benar paham al-Qur’an sebelum engkau
mengetahui makna-makna al-Qur’an dalam berbagai ragam.” [3]
C.
WUJUH DAN NADHA’IR DALAM AL-QUR’AN
Diantara lafadz-lafadz yang termasuk dalam
kategori wujuh adalah kata “al-huda”. As-Suyuthi mengemukakan tujuh belas arti
kata tersebut dalam berbagai tempat sbb:
1.
ثبت
, Tetap, Teguh
اهْدِنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَ (الفاتحة :6)
ð “Teguhkanlah
kami pada jalan yang lurus” (QS Al-Fatihah [1] :6).
2.
البيان,
Penjelasan
أُولَئِكَعَلَىهُدًىمِنْرَبِّهِمْوَأُولَئِكَهُمُالْمُفْلِحُونَ
(البقرة :5)
ð “Merekalah
yang berada dalam penjelasan tuhan dan mereka yang akan berhasil.” (QS Al-Baqarah [2] : 5).
3.
الدّين,
Agama
وَلَاتُؤْمِنُواإِلَّالِمَنْتَبِعَدِينَكُمْقُلْإِنَّالْهُدَىهُدَىاللَّهِأَنْيُؤْتَىأَحَدٌمِثْلَمَاأُوتِيتُمْأَوْيُحَاجُّوكُمْعِنْدَرَبِّكُمْقُلْإِنَّالْفَضْلَبِيَدِاللَّهِيُؤْتِيهِمَنْيَشَاءُوَاللَّهُوَاسِعٌعَلِيمٌ
(آلعمران :73)
ð “Dan janganlah
kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah:
“Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan
(janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang
diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu disisi Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu
ditangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya;
dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”” (Q.S Ali Imron [3]
:73).
4.
الإيمان,
Keimanan
وَيَزِيدُاللَّهُالَّذِينَاهْتَدَوْاهُدًىوَالْبَاقِيَاتُالصَّالِحَاتُخَيْرٌعِنْدَرَبِّكَثَوَابًاوَخَيْرٌمَرَدًّا
(مريم :76)
ð “Dan Allah
akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk .dan
amal-amal sholeh yang kekal itu lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu dan lebih
baik kesudahannya.” (Q.S Maryam [19]: 76)
5.
الدّعاء,
Seruan
وَيَقُولُالَّذِينَكَفَرُوالَوْلَاأُنْزِلَعَلَيْهِآيَةٌمِنْرَبِّهِإِنَّمَاأَنْتَمُنْذِرٌوَلِكُلِّقَوْمٍهَادٍ
(الرعد :7)
ð “Dan
orang-orang kafir berkata : “Mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah ayat
dari Tuhannya ?” Tetapi engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan pada
setiap golongan ada seorang penyeru.” (QS [13] : 7).
وَجَعَلْنَاهُمْأَئِمَّةًيَهْدُونَبِأَمْرِنَاوَأَوْحَيْنَاإِلَيْهِمْفِعْلَالْخَيْرَاتِوَإِقَامَالصَّلَاةِوَإِيتَاءَالزَّكَاةِوَكَانُوالَنَاعَابِدِينَ
(الأنبياء :73)
ð “Telah kami
jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka, mereka mengerjakan
kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah
mereka selalu menyembah.” (Q.S Anbiya’ [21]: 73).
6.
الرّسلdan الكتاب, Rasul dan kitab
قُلْنَااهْبِطُوامِنْهَاجَمِيعًافَإِمَّايَأْتِيَنَّكُمْمِنِّيهُدًىفَمَنْتَبِعَهُدَايَفَلَاخَوْفٌعَلَيْهِمْوَلَاهُمْيَحْزَنُونَ
(البقرة :38)
ð “Kami
berfirman : “Turunlah kamu sekalian dari sini. Maka apabila datang kepadamu
Rasul dan kitab Aku, siapapun mengikuti Rasul dan kitab-Ku tak ada kekhawatiran
dan tak perlu sedih” (QS [2] : 38).
7.
المعرفة,
Pengetahuan
وَأَلْقَىفِيالْأَرْضِرَوَاسِيَأَنْتَمِيدَبِكُمْوَأَنْهَارًاوَسُبُلًالَعَلَّكُمْتَهْتَدُونَ
()وَعَلَامَاتٍوَبِالنَّجْمِهُمْيَهْتَدُونَ(النحل :15-16)
ð “Dan Dia
menciptakan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu
(dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat
petunjuk. dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan
bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl [16]: 15-16).
8.
النّبي صلى الله
عليه وسلم , Muhammad
saw.
إِنَّالَّذِينَيَكْتُمُونَمَاأَنْزَلْنَامِنَالْبَيِّنَاتِوَالْهُدَىمِنْبَعْدِمَابَيَّنَّاهُلِلنَّاسِفِيالْكِتَابِأُولَئِكَيَلْعَنُهُمُاللَّهُوَيَلْعَنُهُمُاللَّاعِنُونَ
(البقرة :159)
ð “Mereka menyembunyikan segala keterangan (ayat-ayat) dan Nabi yang kami
turunkan setelah dijelaskan dalam kitab kepada manusia, mereka mendapat laknat
Allah dan laknat mereka yang berhak melaknat.” (QS [2] : 159).
9.
القرأن ,
al-Qur’an
إِنْهِيَإِلَّاأَسْمَاءٌسَمَّيْتُمُوهَاأَنْتُمْوَآبَاؤُكُمْمَاأَنْزَلَاللَّهُبِهَامِنْسُلْطَانٍإِنْيَتَّبِعُونَإِلَّاالظَّنَّوَمَاتَهْوَىالْأَنْفُسُوَلَقَدْجَاءَهُمْمِنْرَبِّهِمُالْهُدَى
(النجم :23)
ð “Itu hanya
nama-nama yang kamu buat-buat sendiri, kamu dan moyang kamu, Allah tidak
memberi kekuasaan itu. Apa yang mereka ikuti hanyalah dugaan dan yang
menyenangkan nafsu sendiri. Padahal Al-Qur’an dari Tuhan sudah sampai kepada
mereka.” (QS [53] : 23).
10.
التّورة ,
kitab Taurat
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ
لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
“Dan
sesungguhnya telah Kami berikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, agar mereka
(Bani Israil) mendapat petunjuk”. (al-mu’munun: 49)
11. الإسترجاء ,
Permohonan lindungan
الَّذِينَإِذَاأَصَابَتْهُمْمُصِيبَةٌقَالُواإِنَّالِلَّهِوَإِنَّاإِلَيْهِرَاجِعُونَ() أُولَئِكَعَلَيْهِمْصَلَوَاتٌمِنْرَبِّهِمْوَرَحْمَةٌوَأُولَئِكَهُمُالْمُهْتَدُونَ
(البقرة :157-156)
ð “Mereka
berkata, bila ditimpa musibah “Inna lillahi wa ‘inna ilaihirojiun” Kami milik
Allah dan kepadaNya pasti kami kembali. Mereka itulah yang mendapat karunia dan
rahmat dari Tuhan dan mereka itulah yang memohon perlindungan.” (QS Al-Baqarah [2] :
156-157).
12. الحجّة
, Alasan
أَلَمْتَرَإِلَىالَّذِيحَاجَّإِبْرَاهِيمَفِيرَبِّهِأَنْآتَاهُاللَّهُالْمُلْكَإِذْقَالَإِبْرَاهِيمُرَبِّيَالَّذِييُحْيِيوَيُمِيتُقَالَأَنَاأُحْيِيوَأُمِيتُقَالَإِبْرَاهِيمُفَإِنَّاللَّهَيَأْتِيبِالشَّمْسِمِنَالْمَشْرِقِفَأْتِبِهَامِنَالْمَغْرِبِفَبُهِتَالَّذِيكَفَرَوَاللَّهُلَايَهْدِيالْقَوْمَالظَّالِمِينَ
(البقرة :258)
ð “Tidakkah
tergambar olehmu orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya karena ia
telah diberi kekuasaan ? Ibrahim berkata , “Tuhanku Yang menghidupkan dan Yang
mematikan.” Ia berkata : “Akulah yang membuat hidup dan membuat mati.” Ibrahim
berkata, “Tapi Allah Yang menyebabkan matahari terbit dari Timur. Terbitkanlah
kalau begitu, dari Barat.” Orang yang ingkar itu terkejut. Allah tidak memberi
alasan kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah [2] : 156-157).
13. التّوحيد
, Ajaran Keesaan
وَقَالُواإِنْنَتَّبِعِالْهُدَىمَعَكَنُتَخَطَّفْمِنْأَرْضِنَاأَوَلَمْنُمَكِّنْلَهُمْحَرَمًاآمِنًايُجْبَىإِلَيْهِثَمَرَاتُكُلِّشَيْءٍرِزْقًامِنْلَدُنَّاوَلَكِنَّأَكْثَرَهُمْلَايَعْلَمُونَ
(القصص :57)
ð “Dan mereka
berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan di usir
dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam
daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan
dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi
Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Q.S Al-Qasas [28]: 57).
14. السنّة
, Pedoman Perilaku
أَمْآتَيْنَاهُمْكِتَابًامِنْقَبْلِهِفَهُمْبِهِمُسْتَمْسِكُونَ
() بَلْقَالُواإِنَّاوَجَدْنَاآبَاءَنَاعَلَىأُمَّةٍوَإِنَّاعَلَىآثَارِهِمْمُهْتَدُونَ
(الزخرف :22-21)
ð “Ataukah sudah
Kami beri kitab kepada mereka sebelum itu, lalu mereka jadikan pegangan ?
Bahkan mereka berkata, “Kami sudah melihat leluhur kami sudat menganut suatu
agama, dan kami berpedoman pada mereka.” (QS [43] : 21-22).
15. الإصلاح
, Pembenaran
ذَلِكَلِيَعْلَمَأَنِّيلَمْأَخُنْهُبِالْغَيْبِوَأَنَّاللَّهَلَايَهْدِيكَيْدَالْخَائِنِينَ
(يوسف :52)
ð “Itulah supaya ia tahu bahwa aku tidak
mengkhianatinya ketika ia tak ada, dan Allah tidak membenarkan tipu muslihat
para pengkhianat.” (QS [12] : 52)
16. الإلهام
, Ilham
قَالَرَبُّنَاالَّذِيأَعْطَىكُلَّشَيْءٍخَلْقَهُثُمَّهَدَى
(طه :50)
ð “Ia berkata :
“Tuhan kami ialah Yang telah memberikan setiap suatu (ciptaan) bentuk dan
kodratnya, kemudian mengilhaminya.” (QS [20] : 50)
17. التّوبة
, Tobat
وَاكْتُبْلَنَافِيهَذِهِالدُّنْيَاحَسَنَةًوَفِيالْآخِرَةِإِنَّاهُدْنَاإِلَيْكَقَالَعَذَابِيأُصِيبُبِهِمَنْأَشَاءُوَرَحْمَتِيوَسِعَتْكُلَّشَيْءٍفَسَأَكْتُبُهَالِلَّذِينَيَتَّقُونَوَيُؤْتُونَالزَّكَاةَوَالَّذِينَهُمْبِآيَاتِنَايُؤْمِنُونَ
(الأعراف :156)
ð “Dan tetapkanlah untuk kami
kehidupan yang baik, didunia dan diakhirat. Sungguh kami bertobat kepadaMu, Ia
berfirman, “Azabku akan menimpa siapa-siapa yang Kukehendaki dan rahmatKu
meliputi segala sesuatu. Dan akan Kutetapkan (rahmatKu) untuk mereka yang
bertaqwa dan yang mengeluarkan zakat serta mereka yang beriman kepada ayat-ayat
kami.” (QS [7] : 156).
Kata-kata lain yang termasuk
wujuh misalnya, su’, sholat, rahmah, fitnah, ruh, dzikr, din, du’a. Sedangkan
contoh nadzair dalam al-Qur’an adalah kata “al-barru” yang berarti darat
dan “al-bahru” yang berarti laut.[4]
1.
Q.S al-An’am : 59
وَعِنْدَهُمَفَاتِحُالْغَيْبِلَايَعْلَمُهَاإِلَّاهُوَوَيَعْلَمُمَافِيالْبَرِّوَالْبَحْرِوَمَاتَسْقُطُمِنْوَرَقَةٍإِلَّايَعْلَمُهَاوَلَاحَبَّةٍفِيظُلُمَاتِالْأَرْضِوَلَارَطْبٍوَلَايَابِسٍإِلَّافِيكِتَابٍمُبِينٍ
(الأنعام :59)
ð “Dan pada sisi
Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada didaratan dan di lautan, dan tiada
sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang
kering, melainkan terulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Q.S Al-An’am
[6]: 59).
2.
Q.S Yunus : 22
هُوَالَّذِييُسَيِّرُكُمْفِيالْبَرِّوَالْبَحْرِحَتَّىإِذَاكُنْتُمْفِيالْفُلْكِوَجَرَيْنَبِهِمْبِرِيحٍطَيِّبَةٍوَفَرِحُوابِهَاجَاءَتْهَارِيحٌعَاصِفٌوَجَاءَهُمُالْمَوْجُمِنْكُلِّمَكَانٍوَظَنُّواأَنَّهُمْأُحِيطَبِهِمْدَعَوُااللَّهَمُخْلِصِينَلَهُالدِّينَلَئِنْأَنْجَيْتَنَامِنْهَذِهِلَنَكُونَنَّمِنَالشَّاكِرِينَ
(يونس :22)
ð “Dialah Tuhan
yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga
apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa
orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angina yang baik, dan mereka
bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari
segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung
(bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan
kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau
menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang
yang bersyukur.” (Q.S Yunus[10]: 22).
3.
Q.S al-Isra’ : 70
وَلَقَدْكَرَّمْنَابَنِيآدَمَوَحَمَلْنَاهُمْفِيالْبَرِّوَالْبَحْرِوَرَزَقْنَاهُمْمِنَالطَّيِّبَاتِوَفَضَّلْنَاهُمْعَلَىكَثِيرٍمِمَّنْخَلَقْنَاتَفْضِيلًا
(الإسراء :70)
ð “Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka didaratan
dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.” (Q.S al-Isra’[17]: 70).
D.
Wujuh
dan Nazhair Sebagai Fenomena Kebahasaan
Wujuh
sebagai kata atau ujaran, merupakan unsur terkecil bahasa yang telah memiliki
makna dan memiliki banyak pengertian sehingga digunakan di berbagai tempat
dalam al-qur’an dengan pengertian yang beragam.Kata dalam contoh wujuh, pada
dasarnya memiliki sebuah makna yang tetap melekat padanya, namun ketika kata
tersebut memasuki sebuah kalimat untuk menunjukkan konteks tertentu dari suatu
teks, kata tersebut mengalami perkembangan makna berdasarkan makna berdasarkan
konteksnya.
Makna
yang tetap melekat padanya, yang selalu terbawa di manapun kata itu diletakkan,
disebut dengan makna dasar suatu kata. Perkembangan makna yang dialami oleh
suatu kata, terjadi jika kata dipahami dalam sistem hubungan bahasa yang
digunakan untuk menjelaskan suatu konteks. Makna yang ditambahkan pada suatu
kata sepanjang dimaknai dalam suatu sistem hubungan bahasa itu disebut makna
rasional.
Bahasa
adalah dunia manusia. Dengan bahasa manusia mampu memahami realitas yang ada
dan memaknai dunia dalam pengalamannya yang penuh penghayatan. Maka, bahasa
manausia tidak terlepas dari pengalamannya. Pengalaman itu sendiri berjalan di
dalam latar kehidupan yang terbentuk dalam tradisi. Oleh karena itu, bahasa
dipahami dalam kerangka tradisi yang mencakupinya.
Kebiasaan
atau adat memiliki signifikansi sebagai cakrawala pemahaman dalam membentuk pmaknaan terhadap suatu kata.
Dua tradisi yang berbeda membentuk makna relasional yang berbeda dari sebuah
kata yang memiliki sebuah kata yang memiliki sebuah makna dasar yang melaknat
dalam dirinya.
Al-Qur’an
memiliki kata-kata yang menjadi istilah-istilah kunci untuk memahami
konsep-konsep yang ada di dalamnya. Kata-kata itu tidaklah sederhana karena
setiap kata memiliki makna dasar masing-masing. Namun, kata-kata itu memiliki
makna relasional yang memiliki arti penting yang konkret justru saat kata-kata
itu dirangkai dalam sebuah sistem hubungannya.
Kata
kitab yang terpisah dari sistem hubungan memiliki makna “kitab”. Saat ia
diletakkan pada sistem khusus dalam hubungan pada sistem khusus dalam hubungan
earat dengan kata-kata pentingseperti Allah, wahyu, tanzil, nabi, dan ahl ia
dipahami secara komprehensif sebagai kata yang memeliki signifikansi dalam
kehidupan muslim. Kitab, kemudian bukan hanya sebagai sebuah kitab dalam makna
dasarnya, melainkan kitab yang merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah
kepada nabi. Kitab jadi memiliki makna baru yang tidak dipahami sebelumnya oleh
masyarakat pra-islam.
Kata-kata
dalam al-qur’an yang memiliki interrelasi inilah yang dipahami sebagai wujuh.
Sedangkan nazhai’ir adalah kata-kata yang bukan merupakan istilah-istilah kunci
sebagai konsep religius, sehingga ia pahami dengan makna dasarnya yang berpijak
pada tradisi bahasa arab saat al-qur’an diturunkan.[5]
Sebab
beberapa lafaz memiliki makna lain adalah :
1.
Adanya perbedaan antara qobilah Arab dalam
penggunaan bahasa.
2.
Lafaz yang telah ditentukan atas makna
tertentu, namun mereka malah mengguanakan makana majazi sampai melupakan makna
asli dari lafaz majazi tersebut.
3.
Adanya pengakuan atas keragaman makna yang
disampaikan atas satu tujuan yang sama.
4.
Lafaz tertentu telah ditetapkan dalam suatu
makna tertentu, namun digunakan untuk istilah bagi makna lain.[6]
E.
Wujuh
dan Nazhair sebagai fenomena kewahyuan
Al-Qur’an
sepagai pedoman dan tatanan kehidupan yang merupakan kalam Allah yang bersifat
transendental dan universal, sehingga bernuansa shalih likulli zaman wa makan.
Al-Qur’a, sebagai petunjuk, pedoman bagi manusia, maka harus bisa dipahami oleh
pembacanya.
Memahami
makna dalam seluk beluk kalam yang tertera itu, diupayakan beragam cara. Tak ada yang bisa menjustifikasi bahwasanya
apa yang ia pahami tehadap al-Qur’an bahwa itu adalah kebenaran mutlak yang
diharapkan Allah. Tetapi ada tolak ukur untuk memahami makna tersebut yaitu
kondisi objektif teks atau firman tertulis dalam bahasanya itu sendiri. Menurut
Gadamer, seperti dikutip Poesprojo, bahasa memiliki struktur spekulatif yang
berarti cermin. Seseorang yang melihat seorang sahabatnya dari sebuah cermin
yang bisa melihat sebgaimana rupa asli darinya, namun pada hakikatnya bukanlah
sahabat yang sesungguhnya. Karena pandangannya dipengaruhi sudut pandangnya
sendiri. Ini dianologikan bagi seorang yang memahami maksud Allah melalui
sebuah teks al-Qur’an, ketika ia mampu memahami maksud Allah atas sebuah teks,
maka tentu berebda pula pemahamannya dengan orang lain karena semua tergantung
subjektivitas penafsir. Sehingga al-Qur’an memiliki kebenaran yang bersifat
multidimensi dapat dipahami.[7]
Menurut Prof. Moch Chirzin dalam
bukunya al-Qur’an dan Ulumul Qur’an bahwasanya fenomena wujuh menunjukan bahwa
sistem hubungan istilah-istilah kunci dalam al-Qur’an telah membentuk pandangan
dunianya sebagai cakeawala pemahaman bagi pembacanya dalam usaha memahami
kandungannya. Sedangkan fenomena nazha’ir mengindikasikan al-Qur’an sebagai
peristiwa kesejarahan yang juga menggunakan kata-kata dengan makna dasar yang
diwarisi oleh tradisi saat dan dimana ia diturunkan.[8]
BAB
III
Penutup
A.
Kesimpulan
Dari
paparan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kaidah wujuh dan nazhair
ini sangat dibutuhkan dan penting dalam suatu produk penafsiran. Karena ia berkaitan dengan makna
yang dipakai atas suatu lafaz disuatu tempat tetap sebagai makna itu atau bisa
berbeda. Maka dengan mengetahui wujuh bisa melihat makna suatu lafaz, tidak
dipakai lagi dalam lafaz lain, namun memakai makna lain. Begitu juga dengan
nazhair yang hanya selalu dipakai itu saja maknanya tanpa berubah walaupun
diletakkan di tempat lain.
Wujuh dalam al-Qur’an salah satu contoh lafaznya ialah huda yang meiliki
varian makna ketika kita membaca al-Qur’an, tidak hanya diartikan satu tapi
banyak, seperti pengetahuan, taurat, permohonan dan lainnya. Sedangkan nazhair
hanya it uterus artinya walau ditempat yang berlainan, seperti barr dan bahr tyang
selalu diartika darat dan laut.Semua ini bisa demikian karena kebahasaan dan
kewahyuan.
B.
Saran
Dalam
makalah ini, penulis mengharapkan bisa memberikan manfaat kepada pembaca dan
juga bisa memberikan kritik yang membangun terhadap makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Cihirzin,
Muhammad. 1998. Al-qur’an dan Ulumul
Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
Isma’i, Muhammad Bakr. 1991. Dirasah fi ulumil Qur’an.
kairo: Darul Manar.
Muhammad,
Salwa. 1998. al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim.
Kairo: Dar el-Syuruq.
[1]Salwa Muhammad al-‘Awwal, wujuh wan nazhair
fil qur’anil karim, (Mesir: Darus Syaruq,1998 ), hal.19-21.
[2]Salwa Muhammad al-’Awwa, al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an
al-Karim(Kairo: Dar el-Syuruq, 1998),Hlm 41
[3] Muhammad chirzin, Al-qur’an dan
Ulumul Qur’an,( Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998),
[4] Muhammad chirzin, Al-qur’an dan Ulumul Qur’an,( Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998),
[5] Muhammad chirzin, Al-qur’an dan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta:
Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 215-216.
[6] Dr. Muhammad Bakr Isma’il, Dirasah fi ulumil Qur’an, (kairo:
Darul Manar, 1991), hal. 272.
[7] Muhammad chirzin, Al-qur’an dan Ulumul Qur’an,( Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 217.
[8] Muhammad chirzin, Al-qur’an dan Ulumul Qur’an,( Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1998), hlm. 217.
Komentar
Posting Komentar